WHAT'S NEW?
Loading...

Pendidikan Indonesia : Media Untuk Berkembang atau Formalitas Semata ?

Halo readers, kebetulan nih saya lagi empet banget sama yang namanya pendidikan. Di semester 2 ini ada dosen yang gemblungnya minta ampun (gak sebut nama). Padahal saya tiap hari sudah masuk kelas alias gak pernah bolos, di kelas juga ngikutin kegiatan, eeeeh ternyata di akhir Semester 2 cuma dapet nilai D *faaaak. Ya kalau dasarnya kurang pintar mau diapain coba ? Kan yang paling penting saya sudah berusaha. Nulis materi sudah, belajar materinya sudah, rajin masuk kelas sudah, tapi begitu ujian, soal yang dikeluarkan pake' kosakata alien (begitulah menurut saya) alias soalnya susah dipahami maksud dan tujuannya itu menanyakan apa. Ya dengan perasaan jengkel dan rasa ingin berkata kasar (lagi tren ini di tahun 2017), akhirnya saya curhat di sini, siapa tau nanti kalau udah sukses *aamiin bisa baca-baca lagi perjuangan dulu waktu muda biar nantinya gak sombong.


 (Ilustrasi pendidikan sebagai bagian penting dari manusia. Sumber di sini)


Oke, langsung ke topik bahasan yaitu Pendidikan Indonesia : Media untuk Berkembang atau Formalitas Semata ?. Pendidikan di Indonesia itu sebenarnya bukan ajarannya yang buruk, tapi kebusukkan di dalam prosesnya yang bikin saya kadang sampai geleng-geleng. Dulu waktu saya masih belum bisa mikir (baca : kecil) ndak pernah mau tau apa sebenarnya pendidikan itu. Tapi, setelah saya perhatikan dengan seksama dan dalam tempo yang lama, akhirnya saya merasa muak 😔 Apa yang menjadi alasan saya mulai muak dengan pendidikan ? (berharap Pak Menteri baca tulisan pendek ini 😆)
  1. Karena budaya buruk yang diwariskan turun temurun. Hal ini saya rasakan pertama kali waktu kelas 5 SD. Budaya apa ? MENCONTEK. Pasti ada yang mikir, "sok lu, kayak gak pernah nyontek aja". Jujur nih ya mas, mbak, saya ini kalau ujian gak pernah nyontek, kalau tanya-tanya sih pernah. Memang apa buruknya nyontek ? Banyak sebenernya, tapi berdasar apa yang saya rasakan, ada satu hal yang bikin gereget, yaitu waktu orang yang mencontek mengganggu orang yang dicontek. Gagal paham ? saya jelasin nih. Misal aja kamu itu super pinter, dan ada teman di samping atau belakangmu minta jawabanmu. Kamu jawab "Oke, lihat sendiri ya, aku masih ngerjain soal yang lain". Nah temenmu bilang "Yaelah, siniin dulu kertasnya, bentar aja". Bagaimana perasaanmu ? Campur aduk lah pasti, mirip rujak 😆
  2. Karena orang-orang di bidang pendidikan kurang berdedikasi. Orang-orang yang saya maksud bukan hanya guru, tapi mereka-mereka yang mengutak-atik sistem pendidikan dengan tujuan memperbaiki, tapi hasilnya meleset jauh. Ingat polemit Kurikulum 2013 (K13) ? Saya merupakan salah satu korban K13. Menurut saya, K13 itu sistem yang belum sempurna, tapi dipaksakan penggunaannya. Yang terjadi ? Para guru dibuat bingung dan itu pasti berdampak pada para siswa. Bahkan pernah waktu saya kelas 2 SMA, dalam 1 tahun dua kali ganti kurikulum. Yang pertama berganti dari KTSP 2006 menjadi K13 (di semester 1), lalu berganti lagi dari K13 menjadi KTSP 2006 (semester 2). Yang pertama kali terlintas dipikiran saya yaitu "Bentuk nilainya bagaimana tuh ?". Nilai di KTSP masih menggunakan angka (0-100), kalau K13 sudah menggunakan huruf (1-4 lalu dikonversi ke huruf A-E). Di akhir kelas 2 pun akhirnya saya harus mengurus sendiri di sekolahan agar nilai K13 saya di semester 1 bisa berubah menjadi KTSP 2006 seperti semester 2.
  3. Salahnya sistem pendidikan yang dipakai. Saya ini punya prinsip "Nilai tidak penting, tapi proseslah yang lebih penting". Kenapa ? Karena nilai itu yang menentukan orang lain, sedangkan prosesnya kita sendiri yang merasakan. Sedangkan pendidikan di Indonesia ini lebih mengutamakan nilai daripada prosesnya. Misal, nilaimu lebih rendah dari temanmu waktu ujian, otomatis tempatmu saat daftar sekolah atau universitas tadi juga di bawah temanmu. Padahal mereka yang memberi nilai tidak tahu kalau temanmu itu waktu ujian buka-buka buku, sedangkan kamu jujur dari apa yang kamu kuasai. Intinya, sistem pendidikan di Indonesia ini memberatkan siswa atau mahasiswa yang berlaku jujur. Itulah kenapa banyak pejabar negara ini banyak yang tidak jujur, karena pendidikan kita mengajarkan hanya demi nilai (hasil akhir), hal curang bisa dipakai asal tidak ketahuan. Itu tertanam hingga mereka tua nanti, demi mendapatkan uang banyak (hasil akhir), hal curang pun dihalalkan asal tidak ketahuan.

Ya, itu saja uneg-uneg dari saya. Sebenarnya masih banyak kalau ngomong masalah pendidikan di Indonesia, tapi saya sudah capek ngetiknya. 😁 Intinya kita masih perlu membenahi banyak hal, tidak hanya pendidikan. Tapi semua pembenahan dimulai dari manusianya. Jika manusianya sudah baik, maka hal-hal lain pun mengikuti. Jadi, menurut saya hal yang paling penting dan harus dibenahi terlebih dahulu adalah bidang pendidikan. Keep reads!

0 comments:

Post a Comment